Cogitationis Poenam Nemo Patitur

"No one suffers punishment for mere intent".

Communis Opinio or more like personal journal of whimsical adolescent named Alsa. Passion in anything breathtaking.

Why so serious?
Recent Tweets @noorliaalzahra
Who I Follow

We all have two lives. The second begins when you realise you only have one.’ So I’m not wasting any time. And the thing is, negativity, for my money—they are like clouds that pass across the Sun. They will pass. They’re just feelings. And it’s important not to dwell on it and just move past it.

(via fuckinghiddleston)

Saya adalah manusia yang hampir menghabiskan seperempat jatah usianya (dengan asumsi manusia hidup selama 100 tahun) yang belum pernah jatuh cinta. Jadi sebenarnya sedikit munafik jika saya akan membahas tentang cinta (biarkan selebtwit macam Am*azing saja yang membahas). Tapi bukan berarti saya tidak pernah merasakan sakit dan senang hati (?) dan menurut saya, tingkatan teramat sakit dari sakit hati adalah ketika kamu merasa (atau memang terbukti) dimanfaatkan oleh seseorang. 

Sebagai manusia kita diberi kelebihan berupa intuisi atau insting. Namun terkadang kita terlalu sombong, kita menganak emaskan logika dan membuat intuisi tumbuh kerdil dalam diri kita sendiri. Ada kutipan menarik dari sebuah film yang menjelaskan bagaimana terkadang kita tidak mempercayai intuisi kita sendiri.

“Can I ask you something? Why don’t people trust their instincts? They sense something’s wrong - someone’s walking too close behind them - yet they don’t cross the street.

You knew something was wrong - you even knew what it was, but you came back into the house. Did I force you? Did I grab you and drag you in? I just offered you a drink.          …

You’d never think the fear of offending could be stronger than the fear of pain but you know what? It is. They always come willingly.”

(Girl with the Dragon Tattoo, 2011)

Rasa sakit itu muncul dari akumulasi keramah-tamahan palsu dari si tersangka yang memunculkan kesadaran pada si korban bahwa betapa bodohnya ia menerima ‘minuman’ itu dari si tersangka. Ia akhirnya menyadari bahwa ia dimanfaatkan dan yang lebih buruk, ia telah mengesampingkan intuisinya hanya untuk diperdaya oleh seseorang. 

"I would like to become tolerant without overlooking anything, persecute no one even when all people persecute me; become better without noticing it; become sadder but enjoy living; become more serene, be happy in others; belong to no one, grow in everyone; love the best, comfort the worst; not even hate myself anymore." -Elias Canetti

Pengecut adalah pribadi yang bersorak di balik kata tanpa ada suara yang dapat menembus fakta; yang bersembunyi dalam tipu daya dan membutakan diri terhadap tanda.


Kita berdua saja, duduk. Aku memesan 
ilalang panjang dan bunga rumput —
kau entah memesan apa. Aku memesan
batu ditengah sungai terjal yang deras —

kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
memesan rasa lapar yang asing itu.

― Sapardi Djoko DamonoHujan Bulan Juni

Dia

"Kamu adalah kata yang mengakhiri sajakku tanpa ilusi."

Apalah aku,

aku hanya kumpulan frasa yang disusun dengan emosi,

aku adalah badai yang enggan berhenti,

aku adalah matahari yang terbit hanya di bulan Juni.

Tapi,

"Kamu adalah alasan paling masuk akal mengapa aku selalu kembali pada puisi."

Tulisan ini kuawali dengan sebuah pertanyaan, “sudah siapkah Anda?”

Kupikir hidup ini hanyalah permasalahan siap atau tidak siapkah kita menghadapi apa yang akan terjadi satu menit ke depan, satu jam ke depan, esok hari, dan seterusnya. Jika kembali mengingat serangkaian kejadian yang terjadi di masa lampau, ternyata kita tidak punya pilihan lain selain ‘siap’. Ketidaksiapan hanya terjadi pada mereka yang mampu menghentikan waktu untuk sementara, karena waktu terus berjalan maka kita dituntut untuk siap.

Selama kuliah atau hidup di Jogja, saya mengalami berbagai peristiwa yang menjadikan saya seperti sekarang. Namun saya tidak bisa menilai diri saya sendiri apakah kini saya telah menjadi pribadi yang lebih dewasa kah atau justru masih terjebak dalam pikiran dan sikap yang masih kekanak-kanakkan; tapi yang saya rasakan adalah saya mengalami fase di mana segala sesuatu yang terjadi adalah pantas untuk diintrospeksi. Semua terjadi karena adanya ‘penerimaan’ terhadap ketidaksiapan. Sehingga sebagai penutup dari pembukaan ini pertanyaan sebelumnya akan saya ubah menjadi, “sudah siapkah Anda untuk berintrospeksi?”

Beberapa kejadian yang pantas untuk saya introspeksi saya rangkum dalam tulisan ini dan hal-hal ini menjadi pelajaran bagi saya dan jika beruntung, juga dapat menjadi pelajaran bagi Anda.

1. Jejaring Sosialmu Adalah Harimaumu

Pada tahun pertama perkuliahan saya mendapatkan banyak teman baru; teman satu kelompok ospek, teman satu kelas, teman satu jurusan, bahkan teman hang-out. Mereka terdiri dari berbagai latarbelakang dan berasal dari berbagai daerah namun satu persamaan dari kami adalah, kami sama-sama merantau di kota orang. Berangkat dari hal ini, komunikasi di antara kami menjadi lebih intens; sekedar untuk bersama-sama mengeksplorasi Yogyakarta mencari hiburan atau bersama-sama belajar dan menghadapi sistem perkuliahan. Komunikasi terjadi tidak hanya melalui pesan singkat, namun juga media komunikasi baru bernama jejaring sosial. Well, mungkin jejaring sosial bukan sesuatu yang amat baru mengingat sebagian dari kita sudah mengenalnya sejak SMP dalam bentuk Friendster, dsb.

Komunikasi yang sangat intens dalam jejaring sosial tidak menjamin bahwa kita akrab dalam dunia nyata. Dalam postingan sebelumnya, saya pernah menyebutkan bahwa komunikasi dalam dunia maya rentan terhadap noise, kesalahpahaman dan kata-kata yang terpampang dalam layar secara impulsif (red: spontan dan tanpa dipikir-pikir terlebih dahulu risiko yang akan terjadi). 

Dalam jejaring sosial, kita semua bisa jadi ‘artis’. Semua orang ‘perlu’ tahu apa yang saat ini kita rasakan dan kita lakukan; manusia butuh pengakuan. Jejaring sosial juga media di mana semua orang bebas untuk berpendapat. Fungsi inilah yang menjadi buah simalakama. Tidak semua pendapat atau postingan dalam media ini dibaca dalam artian general. Situasi dan kondisi yang sedang terjadi ketika postingan muncul dalam media berperan dalam memunculkan konflik atau kita lebih mengenalnya dengan kata nyinyir (red: menyindir). 

Karena masih tenggelam dalam euforia penggunaan jejaring sosial, hampir tiap jam saya selalu update status (red: nyinyir), baik via Blackberry Messenger maupun Twitter. Hal tersebut ternyata berdampak tidak baik bagi kesehatan mental saya dan teman-teman dalam circle jejaring sosial saya. Saya akui bahwa apa yang saya lakukan dengan jejaring sosial amatlah kekanak-kanakkan dan butuh waktu hampir berbulan-bulan untuk menyadarinya. (Untuk Anda yang merasa pernah saya siksa dengan kata-kata, saya mohon maaf sebesar-besarnya.)

Lesson learned:

  • yang perlu tahu masalah Anda hanyalah Anda dan orang yang bersangkutan yang terlibat dalam masalah Anda, yang lain hanyalah penonton;
  • kebanyakan dari mereka memang tidak peduli pada apa yang Anda posting/update, tapi mereka masih membacanya;
  • think before you type;

2. “Choose Your Friends Wisely”

Kita adalah spesies homo socius, atau makhluk sosial. Di manapun kita berada kita tidak bisa hidup sendiri atau memaksakan diri untuk hidup sendiri. Kehidupan Chris McCandless (Into The Wild) saja berakhir cukup tragis karena pada akhirnya ia berpikir bahwa kebahagiaan hanya menjadi nyata ketika dibagi dengan seseorang. We still need human relationship.

Dalam perantauan ini, kita menggantungkan sebagian kecil kehidupan kita pada teman karena orang tua tinggal nun jauh di sana. Tuhan menyediakan banyak sekali teman dengan bermacam-macam latarbelakang, sifat, karakteristik, dan perilaku. Apakah kita harus membangun hubungan pertemanan yang akrab dengan semuanya? Ataukah kita hanya perlu mengenal mereka? 

Waktu kecil kita pernah diajari untuk tidak memilih-milih teman. Bahkan ‘pelajaran’ ini selalu muncul dalam soal PPKn zaman SD. Bertemanlah dengan siapa saja kata mereka. Bukan bermaksud sinis, namun prinsip hidup itu menurut saya lebih bersifat dinamis dan tergantung sikon (red: situasi dan kondisi). Kok bisa? Jawabannya…

Friends come and go, not all of them are meant to stay but they meant to cross our path for a reason. We all have different friends for different reasons in different places at different times

Sounds opportunist? Menurut saya, kalimat di atas lebih terdengar realistis. Bukankah realistis dan oportunis berbeda tipis? :) 

Saya selalu berpikir bahwa kita tidak bisa menuntut atau berekspektasi  tinggi pada seseorang. Jika kita mencari kesempurnaan pada seseorang, selamanya kita hidup sendiri dengan dihantui angan-angan belaka. Kesempurnaan adalah kenyamanan yang diciptakan dari dalam diri dan berbagi kebahagiaan dengan orang yang tepat. 

Lesson learned:

  • tempatkan diri Anda dalam lingkungan orang-orang yang memberikan value pada Anda;
  • choose your friends wisely but make as many acquaintances as you can, you never know what benefits they could give you in the future (now that sounds opportunist);
  • don’t trust people easily.

Semoga tulisan ini dapat membantu Anda memikirkan kembali bagaimana Anda akan melanjutkan kehidupan Anda. Semua pilihan ada di tangan Anda, dan pilihan saya adalah menjadikan pengalaman sebagai pembelajaran berharga dan pedoman dalam bersikap. 

 

Aku tak butuh teman bicara, aku tak butuh pesta dan acara. Tapi buku dan lagu yang biasanya menghiburku kini pun turut membuatku semakin sendu. Sepi dalam keramaian, sunyi dalam semarak selebrasi.

Tak jenuhnya kau mengeluh, tak lelahnya kau marah, marah pada diri yang tak henti menyiksanya dengan masalah.

Tugas tertunda, berakhir menjadi wacana. Makanan terasa hambar, hiburan menjadi membosankan. Siang datang tanpa awan, teriknya memanaskan jalanan. Malam kembali, hanya untuk membuat manusia ini terjaga dalam mimpi.

Semua ingin bermimpi
Semua ingin mendamba,
Tapi apakah semua punya ahli?
Apakah semua punya kuasa?

Semua suka akhir yang bahagia
Semua suka oleh kepastian,
Tapi apakah hidup hanya bergantung pada asa?
Apakah semua sudah diatur oleh Tuhan?

Burung camar yang terbang melewati senja, apakah ia tahu akan kemana? Apakah ia pergi sembari menunggu malam berlalu?

Jika langit bisa berkata, maukah ia memberi makna pada manusia yang terlihat hampa? Sepertinya langit tahu segalanya.

Dua hasil tes di atas dihasilkan dari satu pertanyaan yang sangat ambigu untuk dapat saya jawab dengan hanya memilih satu jawaban paling benar. “Terbiasa dengan mewujudkan konsep abstrak ke dalam bentuk visual?” Well, actually it depends on the situation. Ketika menjawab ‘ya’ saya diarahkan ke hasil pada gambar kedua, tentu saja, desain akan menjadi sangat cocok bagi saya karena passion terpendam saya terhadap desain sangat dalam walaupun baru terbatas dalam hal mengagumi karena saya akui bahwa kemampuan saya dalam menggambar sangat buruk.

Dalam situasi-situasi tertentu ketika saya harus menjelaskan konsep abstrak tersebut kepada orang lain, saya akan mewujudkannya dalam bentuk visual, namun jika konsep tersebut hanya untuk disimpan sendiri maka jawaban ‘no’ saya pilih. Hal itulah yang membawa saya kepada hasil pada gambar pertama. Bisnis memang latar belakang pendidikan saya, dahulu sebelum kuliah orangtua serta guru SMA saya menganjurkan saya untuk mengambil sekolah bisnis karena mereka merasa melihat kemampuan saya adalah di bidang ini.

Tapi menurutku, dengan menggabungkan kemampuan dan passion maka “what we ‘see’ in the future” akan lebih ‘besar’ dari penilaian-penilaian di atas. Semoga.

Bagaimana bintang dapat bertahan ketika bulan sembunyi dalam hitamnya langit malam? Atau terkadang dengan keanggunan yang misterius, berada di balik awan mendung.

Tidakkah ia lelah menemani kita yang membisu bersama kesunyian? 

Kita hanyalah manusia yang berjuang menuju kebebasan. Terlepas dari perasaan namun terhempas dalam kecemburuan.

Bagaimana matahari dapat bertahan ketika bintang selalu menemani bulan dalam tiap malam? Bulan bersikap semestinya namun bintang tak kunjung berhenti mengeluhkan.

Life is like a pack of jelly beans. You never know what you’re gonna get.

Companionship is a foreign concept to some people. They fear it as much as the majority of people fear loneliness.
Criss Jami