Cogitationis Poenam Nemo Patitur

"No one suffers punishment for mere intent".

Communis Opinio or more like personal journal of whimsical adolescent named Alsa. Passion in anything breathtaking.

Why so serious?
Recent Tweets @noorliaalzahra
Who I Follow

Tulisan ini kuawali dengan sebuah pertanyaan, “sudah siapkah Anda?”

Kupikir hidup ini hanyalah permasalahan siap atau tidak siapkah kita menghadapi apa yang akan terjadi satu menit ke depan, satu jam ke depan, esok hari, dan seterusnya. Jika kembali mengingat serangkaian kejadian yang terjadi di masa lampau, ternyata kita tidak punya pilihan lain selain ‘siap’. Ketidaksiapan hanya terjadi pada mereka yang mampu menghentikan waktu untuk sementara, karena waktu terus berjalan maka kita dituntut untuk siap.

Selama kuliah atau hidup di Jogja, saya mengalami berbagai peristiwa yang menjadikan saya seperti sekarang. Namun saya tidak bisa menilai diri saya sendiri apakah kini saya telah menjadi pribadi yang lebih dewasa kah atau justru masih terjebak dalam pikiran dan sikap yang masih kekanak-kanakkan; tapi yang saya rasakan adalah saya mengalami fase di mana segala sesuatu yang terjadi adalah pantas untuk diintrospeksi. Semua terjadi karena adanya ‘penerimaan’ terhadap ketidaksiapan. Sehingga sebagai penutup dari pembukaan ini pertanyaan sebelumnya akan saya ubah menjadi, “sudah siapkah Anda untuk berintrospeksi?”

Beberapa kejadian yang pantas untuk saya introspeksi saya rangkum dalam tulisan ini dan hal-hal ini menjadi pelajaran bagi saya dan jika beruntung, juga dapat menjadi pelajaran bagi Anda.

1. Jejaring Sosialmu Adalah Harimaumu

Pada tahun pertama perkuliahan saya mendapatkan banyak teman baru; teman satu kelompok ospek, teman satu kelas, teman satu jurusan, bahkan teman hang-out. Mereka terdiri dari berbagai latarbelakang dan berasal dari berbagai daerah namun satu persamaan dari kami adalah, kami sama-sama merantau di kota orang. Berangkat dari hal ini, komunikasi di antara kami menjadi lebih intens; sekedar untuk bersama-sama mengeksplorasi Yogyakarta mencari hiburan atau bersama-sama belajar dan menghadapi sistem perkuliahan. Komunikasi terjadi tidak hanya melalui pesan singkat, namun juga media komunikasi baru bernama jejaring sosial. Well, mungkin jejaring sosial bukan sesuatu yang amat baru mengingat sebagian dari kita sudah mengenalnya sejak SMP dalam bentuk Friendster, dsb.

Komunikasi yang sangat intens dalam jejaring sosial tidak menjamin bahwa kita akrab dalam dunia nyata. Dalam postingan sebelumnya, saya pernah menyebutkan bahwa komunikasi dalam dunia maya rentan terhadap noise, kesalahpahaman dan kata-kata yang terpampang dalam layar secara impulsif (red: spontan dan tanpa dipikir-pikir terlebih dahulu risiko yang akan terjadi). 

Dalam jejaring sosial, kita semua bisa jadi ‘artis’. Semua orang ‘perlu’ tahu apa yang saat ini kita rasakan dan kita lakukan; manusia butuh pengakuan. Jejaring sosial juga media di mana semua orang bebas untuk berpendapat. Fungsi inilah yang menjadi buah simalakama. Tidak semua pendapat atau postingan dalam media ini dibaca dalam artian general. Situasi dan kondisi yang sedang terjadi ketika postingan muncul dalam media berperan dalam memunculkan konflik atau kita lebih mengenalnya dengan kata nyinyir (red: menyindir). 

Karena masih tenggelam dalam euforia penggunaan jejaring sosial, hampir tiap jam saya selalu update status (red: nyinyir), baik via Blackberry Messenger maupun Twitter. Hal tersebut ternyata berdampak tidak baik bagi kesehatan mental saya dan teman-teman dalam circle jejaring sosial saya. Saya akui bahwa apa yang saya lakukan dengan jejaring sosial amatlah kekanak-kanakkan dan butuh waktu hampir berbulan-bulan untuk menyadarinya. (Untuk Anda yang merasa pernah saya siksa dengan kata-kata, saya mohon maaf sebesar-besarnya.)

Lesson learned:

  • yang perlu tahu masalah Anda hanyalah Anda dan orang yang bersangkutan yang terlibat dalam masalah Anda, yang lain hanyalah penonton;
  • kebanyakan dari mereka memang tidak peduli pada apa yang Anda posting/update, tapi mereka masih membacanya;
  • think before you type;

2. “Choose Your Friends Wisely”

Kita adalah spesies homo socius, atau makhluk sosial. Di manapun kita berada kita tidak bisa hidup sendiri atau memaksakan diri untuk hidup sendiri. Kehidupan Chris McCandless (Into The Wild) saja berakhir cukup tragis karena pada akhirnya ia berpikir bahwa kebahagiaan hanya menjadi nyata ketika dibagi dengan seseorang. We still need human relationship.

Dalam perantauan ini, kita menggantungkan sebagian kecil kehidupan kita pada teman karena orang tua tinggal nun jauh di sana. Tuhan menyediakan banyak sekali teman dengan bermacam-macam latarbelakang, sifat, karakteristik, dan perilaku. Apakah kita harus membangun hubungan pertemanan yang akrab dengan semuanya? Ataukah kita hanya perlu mengenal mereka? 

Waktu kecil kita pernah diajari untuk tidak memilih-milih teman. Bahkan ‘pelajaran’ ini selalu muncul dalam soal PPKn zaman SD. Bertemanlah dengan siapa saja kata mereka. Bukan bermaksud sinis, namun prinsip hidup itu menurut saya lebih bersifat dinamis dan tergantung sikon (red: situasi dan kondisi). Kok bisa? Jawabannya…

Friends come and go, not all of them are meant to stay but they meant to cross our path for a reason. We all have different friends for different reasons in different places at different times

Sounds opportunist? Menurut saya, kalimat di atas lebih terdengar realistis. Bukankah realistis dan oportunis berbeda tipis? :) 

Saya selalu berpikir bahwa kita tidak bisa menuntut atau berekspektasi  tinggi pada seseorang. Jika kita mencari kesempurnaan pada seseorang, selamanya kita hidup sendiri dengan dihantui angan-angan belaka. Kesempurnaan adalah kenyamanan yang diciptakan dari dalam diri dan berbagi kebahagiaan dengan orang yang tepat. 

Lesson learned:

  • tempatkan diri Anda dalam lingkungan orang-orang yang memberikan value pada Anda;
  • choose your friends wisely but make as many acquaintances as you can, you never know what benefits they could give you in the future (now that sounds opportunist);
  • don’t trust people easily.

Semoga tulisan ini dapat membantu Anda memikirkan kembali bagaimana Anda akan melanjutkan kehidupan Anda. Semua pilihan ada di tangan Anda, dan pilihan saya adalah menjadikan pengalaman sebagai pembelajaran berharga dan pedoman dalam bersikap.

.

.

.

(Antiklimaks: udah kayak motivator gak gue? Hehehe)

 

Aku tak butuh teman bicara, aku tak butuh pesta dan acara. Tapi buku dan lagu yang biasanya menghiburku kini pun turut membuatku semakin sendu. Sepi dalam keramaian, sunyi dalam semarak selebrasi.

Tak jenuhnya kau mengeluh, tak lelahnya kau marah, marah pada diri yang tak henti menyiksanya dengan masalah.

Tugas tertunda, berakhir menjadi wacana. Makanan terasa hambar, hiburan menjadi membosankan. Siang datang tanpa awan, teriknya memanaskan jalanan. Malam kembali, hanya untuk membuat manusia ini terjaga dalam mimpi.

Semua ingin bermimpi
Semua ingin mendamba,
Tapi apakah semua punya ahli?
Apakah semua punya kuasa?

Semua suka akhir yang bahagia
Semua suka oleh kepastian,
Tapi apakah hidup hanya bergantung pada asa?
Apakah semua sudah diatur oleh Tuhan?

Burung camar yang terbang melewati senja, apakah ia tahu akan kemana? Apakah ia pergi sembari menunggu malam berlalu?

Jika langit bisa berkata, maukah ia memberi makna pada manusia yang terlihat hampa? Sepertinya langit tahu segalanya.

Dua hasil tes di atas dihasilkan dari satu pertanyaan yang sangat ambigu untuk dapat saya jawab dengan hanya memilih satu jawaban paling benar. “Terbiasa dengan mewujudkan konsep abstrak ke dalam bentuk visual?” Well, actually it depends on the situation. Ketika menjawab ‘ya’ saya diarahkan ke hasil pada gambar kedua, tentu saja, desain akan menjadi sangat cocok bagi saya karena passion terpendam saya terhadap desain sangat dalam walaupun baru terbatas dalam hal mengagumi karena saya akui bahwa kemampuan saya dalam menggambar sangat buruk.

Dalam situasi-situasi tertentu ketika saya harus menjelaskan konsep abstrak tersebut kepada orang lain, saya akan mewujudkannya dalam bentuk visual, namun jika konsep tersebut hanya untuk disimpan sendiri maka jawaban ‘no’ saya pilih. Hal itulah yang membawa saya kepada hasil pada gambar pertama. Bisnis memang latar belakang pendidikan saya, dahulu sebelum kuliah orangtua serta guru SMA saya menganjurkan saya untuk mengambil sekolah bisnis karena mereka merasa melihat kemampuan saya adalah di bidang ini.

Tapi menurutku, dengan menggabungkan kemampuan dan passion maka “what we ‘see’ in the future” akan lebih ‘besar’ dari penilaian-penilaian di atas. Semoga.

Bagaimana bintang dapat bertahan ketika bulan sembunyi dalam hitamnya langit malam? Atau terkadang dengan keanggunan yang misterius, berada di balik awan mendung.

Tidakkah ia lelah menemani kita yang membisu bersama kesunyian? 

Kita hanyalah manusia yang berjuang menuju kebebasan. Terlepas dari perasaan namun terhempas dalam kecemburuan.

Bagaimana matahari dapat bertahan ketika bintang selalu menemani bulan dalam tiap malam? Bulan bersikap semestinya namun bintang tak kunjung berhenti mengeluhkan.

Life is like a pack of jelly beans. You never know what you’re gonna get.

Companionship is a foreign concept to some people. They fear it as much as the majority of people fear loneliness.
Criss Jami
Don’t get too close. It’s dark inside, it’s where my demons hide.
Imagine Dragons (Demons)
Sahabatku adalah ibu, buku, dan lagu.

Yeah we’re locked up in ideas. We like to label everything (Foster The People)

Kita suka sekali mengarang sesuatu. Gemar bergelut dengan ketidakpastian, merasa puas dan bahagia dengan fakta yang buram, terus menderita dalam asumsi. (Bukankah kita senang sekali bergosip?)

Bergantung pada kabar burung. Padahal hal itu merusak dirimu dan orang yang dipergunjingkan. Indikasi masokis kah? Atau hanya imajinasi tingkat tinggi? Ah, mungkin kita terlalu sering dicekoki drama.

Sialnya, ketika kita terjun ke dalam lubang hitam kepalsuan itu, kita akan berjuang sendiri, well, kemungkinan besar kita akan berjuang sendiri. Pembelaan untuk melawan gunjingan, ataukah pembelaan untuk berdalih, semua keputusan di tanganmu. Lupakan teman, lupakan sahabat, lupakan  waktu dan situasi, bahkan, lupakan semesta yang berkonspirasi! Kamu sendiri.

You’ve applied the pressure |  To have me crystalized | And you’ve got the faith | That I could bring paradise | I’ll forgive and forget | Before I’m paralyzed | Do I have to keep up the pace | To keep you satisfied | Things have gotten closer to the sun | And I’ve done things in small doses | So don’t think that I’m pushing you away | When you’re the one that I’ve kept closest | You don’t move slow | Taking steps in my directions | The sound resounds, echo | Does it lessen your affection | No, you say I’m foolish | For pushing this aside | But burn down our home | I won’t leave alive | Glaciers have melted to the sea | I wish the tide would take me over | I’ve been down on my knees | And you just keep on getting closer…

image

Senyum menghantui malam | meningkap waktu yang kian saru

Melontarkan tanda tanya | dan kau menjawab dengan haru.

Perasaan yang semula diabaikan |  tumbuh menjadi kehinaan

Siapakah aku? Mencoba untuk mencinta?

Kutahan hasrat dengan memberi isyarat | tapi kau membalas tanpa berbatas

Dan kita larut | dalam hubungan yang tak mungkin berlanjut.

Terlunta dalam kesangsian | letih untuk terus berdalih

Mengubur harapan yang telah hancur | membuka peluang yang tak mungkin ‘tuk hilang

Yogyakarta, 2 Maret 2014 | Untuk kisah yang tak mungkin terlupa, TMWM

Built these walls so high, created barriers that too tight

Our time spent in vain, put aside logical and reason

As cold as winter chill

tried so hard to pass off the thrill

The unknown becomes hater

dreams and hopes are only savior

All of sudden, we’re not worth anything

just selfish human being.

Sebelum melanjutkan tulisan ini, aku ingin memohon maaf padamu Jogja karena selama satu tahun terakhir ini aku telah selingkuh darimu. Pikiranku tak pernah di kotamu. Kuakui kamu adalah tipikal kota yang setia, tak pernah mengeluh, terlihat elok dan elegan, menarik perhatian orang-orang yang haus akan budaya dan kearifan lokal, orang-orang yang tidak seperti aku.

Oh, Jogja…

Apakah aku pernah menyakitimu begitu dalam lalu aku malu untuk melihat rasa sakitmu dan mencoba untuk kabur? Jika ya, sungguh terlalu diriku. Cintaku padamu memang palsu. Jogja, tidakkah dirimu merasa terganggu akan keberadaan diriku? Usirlah aku segera, karena aku sudah merindukan kota lain itu. Kota selanjutnya di mana aku akan menuntut ilmu. 

Dahulu aku memang pernah mimimpikan dirimu. Kulihat kau sebagai sosok yang sempurna untuk membentuk pribadiku. Berjalan kaki di kotamu selalu dihampiri angin sejuk dan alunan suara bel sepeda yang merdu. Kini pribadimu berubah. Diubah oleh ribuan orang dengan karakteristik yang hampir sama sepertiku. Mereka yang ingin sekedar menggali ilmu atau memeras peluh. 

Jogja, apakah diriku kurang bersyukur? Apakah aku kurang menikmati kehidupanku di kotamu? Apakah ini hanya bentuk penyangkalanku terhadap harapan-harapan semu yang pernah aku janjikan padamu?